Lawan Pemilu Curang, 'Ada Kekuatan Besar yang Mengendalikan', Indonesia Dalam Bahaya ?

Foto : Fauzan Hakim, S.Ag, alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang.



Ambisi Presiden Jokowi ingin mempertahankan kekuasaannya telah membawa dampak buruk bagi sistem demokrasi kita hari ini. Pemilu yang seharusnya berjalan  jujur dan adil (jurdil) telah dinodai oleh ulah Jokowi dengan cawe-cawenya. Diduga telah terjadi kecurangan.

Bagi saya pemilu kali ini adalah pemilu terburuk sepanjang sejarah Indonesia, karena dilakukan dengan kecurangan.

Kecurangan itu lanjutnya, dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Dari awal  pemilu sudah didesain sejak dari isu tiga periode, pencegalan Anies, terakhir meloloskan Gibran menjadi Cawapres. Demi sebuah kekuasaan dan mempertahankan dinastinya, Jokowi telah menghalalkan segala cara. Bekerjasama dengan komplotannya, para pemodal (oligator) dan para partai politik pendukungnya. Mereka  mendesain pemilu tahun 2024 agar satu putaran. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk memenangkan Paslon 02.

Dalam sebuah pidato ia pernah berkata, 'Saya tak bisa dilawan'. Pernyataan itu sejalan   dengan watak kekuasan yang selalu  memaksa. Poin isi pidato tersebut  mengisyaratkan bahwa pemilu sudah ditentukan pemenangnya dan Jokowi tak bisa dikalahkan, ia harus menang apapun caranya harus dilakukan.

Akan tetapi, Jokowi lupa kejatuhan Fir'aun yang berkuasa selama 400 tahun dapat ditumbangkan oleh orang biasa, yang dianggap hina pada saat itu, yaitu Nabi Musa. Apa sebab? Penyebab kejatuhan Fir'aun yang pertama adalah karena kesombongannya. Karena Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang  sombong dan zalim secara terus-menerus berkuasa. Fir'aun berkuasa selama 400 tahun dapat ditumbagkan apalagi Jokowi yang belum seberapa, hampir sepuluh tahun. Ingat, 'kesombongan yang memuncak pertanda kehancuran seseorang sudah dekat'.

Lanjutnya, kecurangan berikutnya terjadi saat Jokowi melalui adik iparnya Anwar Usman Ketua MK, berhasil meloloskan Gibran menjadi Cawapres lalu kemudian  berpasangan dengan Prabowo. Setelah itu  Jokowi dengan segenap kekuasaan dan uang serta para pendukungnya telah memporak-porandakan jalannya pemilu. Ia telah berhasil mencuri perhatian masyarakat pemilih. Melalui kebijakannya yang tak masuk akal, Jokowi  telah melakukan pemiskinan, pembodohan terhadap rakyat selama kepemimpinanya. Seperti menaikan harga BBM yang berdampak pada kenaikan harga-harga yang sangat menyesengsarakan dan berujung pada penderitaan rakyat sepanjang kepemimpinannya.

Berdasarkan rasio masyarakat pemilih, 80 persen masyarakat pemilih tergolong  pemilih konservatif, mereka ini mayoritas berpendidikan rendah dan miskin, yang  mudah dibujuk. Sisanya hanya 20 persen  tergolong pemilih rasional.

Kondisi ini dimanfaatkannya dengan baik oleh Jokowi sehingga upaya pemiskinan dan pembodohan terus dilakukan. Dengan cara itu, suara rakyat pada Pemilu dengan mudah dimanipulasi melalui suap seperti pemberian bansos, BLT, PKH dan berbagai jenis batuan sosial lainnya. Upaya itu ternyata berhasil.

Selain itu Jokowi telah memanfaatkan fasilitas Negara, ia mengerahkan semua aparaturnya guna memenangkan Paslon 02. Salah satunya mengangkat  PLT Kepala Daerah, Gubernur, Bupati dan Kepala Desa, hingga RT dan RW. Upaya itu dilakukan agar para PLT Kepala Daerah hingga para Kepala Desa mengerahkan bawahan supaya memihak ke salah satu Paslon.

Tak hanya itu, pengerahan aparatur menurunkan baliho Paslon lain dan membiarkan baliho Paslon 02 tetap terpasang, juga merupakan bagian dari kecurangan dan pelanggaran Pemilu, belum lagi surat suara yang telah dicoblos sebelum pemilu dilaksanakan, yang sebagian besarnya memihak ke Paslon 02.

Bahkan lanjutnya, melalui penyelenggara, KPU, Jokowi memanfaatkan teknologi alat bantu penghitungan suara, 'Sirekap', yang saat ini masih diperdebatkan tentang kevaliditasannya. Mengutip dari pernyataan Roy Suryo pada acara ILC yang ditayangkan di TV One berberapa hari lalu, alat bantu penghitungan suara Sirekap rentan dimanipulasi, dikarenakan hitungan angkanya tak punya limit, tanpa batas, sehingga data mudah diubah untuk ditambah atau dikurangi. Anehnya lagi, data yang tersimpan di aplikasi ini sudah beredar dan dimiliki di bebepa Negara yang salah satunya adalah  Singapura.

Saya  menduga ada master mind atau kekuatan besar yang mengendalikan sistem pemilu hari ini sehingga terjadinya kecurangan ini.

Secara yuridis lanjutnya, pemilu belum final karena masih menunggu proses penghitungan suara oleh KPU. Namun secara politik sudah selesai, sebab pemenangnya sudah ditentukan melalui hitungan cepat lembaga survei sewaan yang membingungkan. 'Ini Negara demokrasi atau Negeri Lelucon'.

Oleh karenanya, kepada semua pihak untuk bersatu guna menghentikan langkah konyol Jokowi ini. Harus ada langkah kongkrit seperti melalui Hak Angket DPR yang tentunya harus didukung oleh gerakan masa (people power). Tanpa itu, mustahil agenda politik kotor ini bisa dihentikan. Rakyat harus bersatu, kecurangan harus dilawan, jika diam jangan harap pemilu akan jurdil.

Mengutip pernyataan Rocky Gerung, sejak dari awal, para pakar telah memprediksi bahwa kemenangan Anies akan dihalangi, siapa penghalangnya? ya..Jokowi.

Kita tak usah pura-pura bego, tak perlu sok-sok an menang. Anda tahu kata dia, Pemilu 2024 kali ini adalah pemilu yang paling brutal dan paling memalukan di sepanjang sejarah, dimana kecurangan dilakukan secara terang terangan dan dunia mencatat itu.

Saya tidak pada posisi menyerang, saya hanya ingin mengajak semua menggunakan akal waras dan menyuarakan kebenaran. Saya bukan pendukung, saya pemilih dan itu hak saya sebagai warga Negara. Memihak kepada kebenaran, kejujuran, demi tegaknya keadilan adalah keniscayaan karena itu perintah Tuhan.

Atas dasar itulah, saya memilih yang tentu saja berdasarkan pengetahuan serta  kesadaran batin yang saya miliki, yang nantinya akan saya pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan kelak.

Oleh karena itu, kepada pendukung yang menang untuk tidak berlebihan dan bangga  menyikapi kemenangan itu. Sebab Proses pemilu masih berlangsung. Belum ada pengumuman kok sudah menyuarakan  kemenangan?.

Negeri ini aneh, dimana antara  pemimpin dan pengikutnya berperilaku sama-sama aneh. Saya Ingat, sebuah ayat Al-Qur'an yang menerangkan tentang kecurangan, jika keadaan suatu kaum sudah rusak maka yang jadi pemimpin adalah orang-orang buruk, artinya Al-Qur'an sudah mengingatkan  bahwa kekuasaan hanya  bisa langgeng karena pempimpin dan para pengikutnya sama buruknya.

Kedua lanjutnya, Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang  sombong dan zalim secara terus-menerus berkuasa di bumi ini. Terlalu mudah bagi Allah untuk menghentikan kesombongan rezim ini, akan tetapi sepertinya sengaja dibiarkan, untuk menguji kemana rakyat berpihak, kepada kejujuran, atau tetap mendukung kecurangan atau para pembohong. Namun saya percaya  suatu ketika Tuhan tidak lagi memperdulikan keadaan suatu kaum, lalu  membiarkan kesombongan terus dilakukan, kezaliman , kemaksiatan secara terus menerus dilakukan, maka itu pertanda kehancuran kaum itu hanya tinggal menunggu waktu.

Contohnya kejatuhan Fir'aun yang berkuasa selama 400 tahun dapat ditumbangkan oleh Nabi Musa, seorang yang tak ternama bahkan dianggap hina di masa itu. Apa sebab kejatuhan Fir'aun? Kejatuhan Fir'aun bersama pendukungnya dikarenakan sifat sombongnya. Ada ungkapan dari Profesor JE Sahetapy, 'bila kesombongan seseorang sudah memuncak, itu pertanda kejatuhannya sudah dekat'.

Lalu, ketika perilaku Fir'aun bersama pengikutnya sudah melewati batasnya, maka Allah mengutus Nabi nya Musa, untuk mengingtakan agar Fir'aun dan pengikutnya kembali kejalan yang benar, tetapi peringatan itu diabaikan. Akhirnya Allah membinasakan mereka. Seperti yang dikatakan Quraisy Shihab, hukum sosial mengatakan, 'bila suatu kaum atau kelompok sudah mencapai puncak kebejatannya, maka tak lama mereka akan binasa'.

Sebaliknya, Fir'aun bisa berkuasa hingga ratusan tahun karena ada yang mendukungnya. Celakanya perilaku keduanyapun sama buruknya. Perilaku buruk Fir'aun yang bengis dan kejam, menentang  kebenaran, suka maksiat, itu rupanya didukung oleh pengikut dan orang-orang yang ada disekelilingnya. Maksudnya, pemimpin itu cermin rakyat, jika pemimpin bermaksiat, bisa dipastikan rakyatnyapun suka  bermaksiat. Begitu juga ketika rakyat senang kepada kebaikan, seperti itulah pemimpinnya.

Contoh, mengutip dari Surat An-Nuur ayat 26, ketika seorang  pemimpin senang menunaikan Ibadah Shalat, dapat dipastikan para pengikutnya senang dan taat mengerjakan shalat. Begitu seterusnya. 'Bukankah Allah telah berfirman, dimana golongan yang baik adalah milik golongan yang baik pula.

Karena itu, kedepannya agar masyarakat untuk tidak serampangan dan harus lebih baik hati-hati ketika memilih pemimpin. Sebab kesalahan dalam menentukan pilihan, konsekwensinya akan berdampak  keberlangsungan hidup dan masa depan kita sebagai anak bangsa dan selaku orang tua, yang tentunya tidak menginginkan anak-anak kita harus menderita, karena harus menanggung beban akibat kesalahan kita ketika menentukan pilihan dibilik suara.

Saya prihatin dengan kondisi masyarakat miskin yang saat ini semakin menderita, karena kesulitan ekonomi sebagai akibat dari kebijakan pemerintahan Jokowi yang tidak memihak rakyat kecil.

Satu surat suara yang kita coblos di bilik suara akan menentukan bagaimaa nasib anak cucuk kita kedepan.

Akhirnya keputusan tetap ada di tangan sang pemilik kekuasaan, yakni Tuhan Yang  Maha memutuskan segala perkara umatnya. Allah, dialah pemilik kekuaasaan, dia berikan kekuasaan kepada orang dikehendakinya dan dia pula yang akan mencabutnya. Dia muliakan orang yang Dia kehendaki dan dia pula yang akan menghinakannya, dikutip dari Surat Ali Imran ayat 26.

Karena itu, kepada semua pihak, dari seluruh lapisan, kelas, etnis, agama, ormas, ulama dan aparat TNI, Polri, untuk sama sama menyadari, bersatu untuk melawan kekuatan besar ini, yang sengaja menginginkan bangsa ini terbelah sehingga dengan itu mereka dapat menguasai kita.

Ketahuilah, Allah tak kan keliru dalam memutuskan perkara umatnya, berbeda dengan keputusan makhluk, apalagi keputusan MK yang rentan diintervensi bahkan bisa dikendalikan.

Jadi, siapapun yang terpilih dan menjadi  Presiden nanti,  itulah keputusan yang tepat dan pantas untuk sebuah Negara yang bernama Republik Indonesia. Namun bukan yang terbaik, sebab Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Wallahua'lam.

Ditulis oleh : Fauzan Hakim, S.Ag, alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama