KAMMI MuraLinggau melihat bahwa fenomena tersebut bukan hanya soal satu individu, melainkan potret nyata masih lemahnya kehadiran negara dalam menjamin hak dasar anak, khususnya dalam bidang pendidikan dan kesejahteraan sosial.
KAMMI MuraLinggau menilai bahwa kondisi ini menunjukkan adanya kecenderungan abainya Pemerintah Kota Lubuklinggau terhadap kelompok rentan, terutama orang-orang yang terpaksa turun ke jalan untuk bertahan hidup.
Ketua Umum KAMMI Daerah MuraLinggau, Hamzah Nangwa Zulkarnain melalui Kepala Bidang Sosial dan Masyarakat (Sosmas), Zandia Murti, menegaskan bahwa kisah Nabilah adalah alarm keras bagi semua, terutama pemerintah.
"Ini bukan sekadar persoalan ekonomi keluarga, tetapi kegagalan sistem dalam menghadirkan perlindungan sosial yang nyata.” ujar Zandia, Selasa (07/04/2026).
Zandia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh hanya hadir dalam bentuk program formalitas, namun harus memastikan implementasi yang menyentuh langsung masyarakat paling bawah.
“Kami mempertanyakan secara serius, di mana peran Pemerintah Kota Lubuklinggau? Apakah data keluarga rentan seperti ini tidak terpetakan? Ataukah memang ada pembiaran terhadap kondisi sosial yang terus berulang? Negara tidak boleh kalah oleh keadaan.” tegasnya
KAMMI MuraLinggau mendorong agar Pemerintah Kota Lubuklinggau segera mengambil langkah konkret dan menyeluruh dalam menangani persoalan ini, dimulai dari pendataan yang akurat terhadap keluarga rentan dan orang-orang yang hidup di jalanan, hingga menghadirkan intervensi nyata berupa jaminan pendidikan, perlindungan sosial, serta pendampingan terhadap keluarga mereka. Selain itu, diperlukan evaluasi serius terhadap kinerja dinas terkait agar lebih responsif dan tepat sasaran dalam menjangkau masyarakat marginal, serta perumusan kebijakan yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga mampu mencegah munculnya kasus serupa di masa mendatang.
KAMMI MuraLinggau menegaskan bahwa negara harus hadir secara nyata, bukan hanya dalam narasi, tetapi dalam tindakan yang dirasakan langsung oleh rakyat kecil.
“Jangan sampai anak-anak kita tumbuh dalam himpitan, sementara negara justru diam dalam kenyamanan,” tutup Zandia.
(Gpz)
